Ratusan tahun sebelum masehi, seorang guru dari China, Lao Tzu, pernah memberikan sebuah nasihat yang hingga kini masih berlaku dalam membina hubungan antar manusia, "perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda diperlakukan." Aturan ini sering dikenal dengan sebutan "Pedoman Emas".
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 7:12)

Jumat, 04 November 2011

KEPEMIMPINAN KRISTEN VERSUS KEPEMIMPINAN SEKULER (BAGIAN I)

Bagi khalayak umum, kepemimpinan adalah suatu proses di mana seseorang memengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Tentunya, pemahaman mengenai intisari atau dasar kepemimpinan itu sendiri sangatlah penting bagi setiap pemimpin dalam mempraktikkan pola kepemimpinannya. Sehingga untuk mengerti sudut pandang kepemimpinan dengan benar, setiap pemimpin seharusnya memiliki konsep serta cara pandang yang benar dalam menunjang dan meningkatkan potensi kiprah sang pemimpin itu sendiri.

Pengertian tentang arti dan hakikat kepemimpinan sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, kepemimpinan yang dipraktikkan seorang pemimpin akan diwarnai oleh pemahaman internal tentang arti kepemimpinan itu sendiri.

Demikian pula seorang pemimpin Kristen, pola kepemimpinannya akan ditentukan oleh pemahaman dan penghayatan tentang arti kepemimpinan itu sendiri. Jika makna kepemimpinan sekuler yang dihayati, maka sekalipun ia dikenal sebagai "pemimpin Kristen," akan tetapi, sesungguhnya praktik kepemimpinannya bukan "kepemimpinan kristiani." Sebaliknya, jika ia menghayati dan menerapkan kepemimpinan yang "kristiani" berlandaskan perspektif Alkitab, maka barulah kepemimpinannya layak disebut kepemimpinan rohani.

Pandangan Umum Tentang Kepemimpinan

1. Arti pemimpin

Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu memengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan [1]. Mengutip Henry Pratt Fairchild, Kartini Kartono mengatakan, pemimpin dalam pengertian luas, seorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menujukan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan, atau posisinya. Dalam pengertian terbatas, pemimpin adalah seorang yang memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya [2]. Berdasarkan beberapa definisi dari kata "pemimpin", Kartini Kartono mendefinisikan pemimpin sebagai pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat memengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu [3].

2. Penyebab munculnya pemimpin

Ada tiga teori tentang kemunculan pemimpin [4]. Pertama, Teori Genetis. Teori ini menyatakan bahwa pemimpin lahir dari pembawaan bakatnya sejak ia lahir, bukan dibentuk menurut perencanaan yang disengaja. Pemimpin demikian lahir dari situasi yang bagaimanapun juga, karena ia bersifat sudah ditetapkan (determinis dan fatalis). Kedua, Teori Sosial. Teori ini kebalikan atau lawan teori pertama. Pemimpin tidak muncul akibat bawaannya sejak lahir, melainkan disiapkan dan dibentuk. Sebab itu, setiap orang bisa menjadi pemimpin asal dipersiapkan dan dididik secara sistematis. Ketiga, Teori Ekologis atau Sintetis. Teori ini muncul sebagai respons terhadap dua teori terdahulu. Teori ini menyatakan bahwa pemimpin muncul melalui bakat-bakat sejak lahir, lalu dipersiapkan melalui pengalaman dan pendidikan sesuai dengan konteksnya.

3. Persyaratan pemimpin

Ada tiga hal penting yang menjadi persyaratan pemimpin sekuler [5]. Pertama, Kekuasaan. Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan, otoritas, dan legalitas untuk memengaruhi dan menggerakkan bawahannya. Kedua, Kewibawaan. Pemimpin harus memiliki kelebihan, keunggulan, keutamaan agar ia mampu mengatur orang lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tertentu. Ketiga, Kemampuan. Pemimpin harus memiliki daya, kekuatan, keunggulan, kecakapan teknis dan sosial yang melampaui bawahannya. Ada pula yang beranggapan bahwa pemimpin harus memiliki kualitas-kualitas unggul seperti kemampuan berpikir tinggi, bijaksana, bertanggung jawab, adil, jujur, memiliki rasa humor, dsb. Sebagian lagi beranggapan bahwa pemimpin harus memiliki kemampuan relasi dengan bawahannya, misalnya, kemampuan mengoordinasi bawahannya, menyusun konsep dan penjabaran tujuan-tujuan, bersikap adil, dsb. Namun, menurut pandangan umum/sekuler ini, keunggulan pemimpin dari sisi karakter tidak bersifat mutlak, sebab bisa saja karakter yang baik tidak terdapat pada seorang pemimpin dunia yang paling menonjol dan dipandang paling sukses [6]. Misalnya, Hitler dan Idi Amin yang dikenal sebagai tiran dan menimbulkan petaka dahsyat dalam sejarah dunia dan melenyapkan banyak jiwa, memiliki tabiat yang abnormal dan destruktif.

4. Arti kepemimpinan

Menurut Warren Bennis dan Burt Nanus, seperti yang dikutip Henry dan Richard Blackaby, mereka menemukan ada lebih dari 850 rumusan tentang kepemimpinan [7]. Mengutip pelbagai pandangan umum tentang makna kepemimpinan, Kartini Kartono mengatakan kepemimpinan [8] sebagai: Proses dengan mana seorang agen menyebabkan seorang bawahan bertingkah laku menurut satu cara tertentu. Kegiatan memengaruhi orang-orang agar bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Kegiatan memengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok. Seni untuk memengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang. Kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial melalui mana seseorang dapat memperoleh bantuan dari orang lain dalam mencapai sebuah gol [9]. Berdasarkan beragam pandangan di atas, kepemimpinan berarti proses/kegiatan atau kesanggupan menggerakkan/memengaruhi orang yang dipimpin, kemampuan menuntun mereka mencapai tujuan-tujuan tertentu, yang bersifat individu maupun kelompok.

5. Tipe kepemimpinan

Kepemimpinan dalam pengertian umum dapat dikategorikan berdasarkan beberapa cara. Ada yang membagi tipe kepemimpinan sebagai [10]: 1) the crowd-compeller, kepemimpinan yang memaksakan kehendaknya kepada kelompok. 2) the crowd-exponent, penerjemahan atau bentuk penampilan dari kelompok. 3) the crowd-representative, kepemimpinan sebagai wakil/utusan dari kelompok. Ada pula pembagian tipe: 1) kepemimpinan konservatif/kuno, 2) kepemimpinan radikal, dan 3) kepemimpinan yang ilmiah [11]. Berdasarkan orientasi (tugas, hubungan kerja, dan hasil efektif) kepemimpinan dapat dibagi menjadi delapan tipe: deserter (pembelot), birokrat, misionari, developer (pembangun), otokrat, otokrat yang bajik, compromiser (kompromis), dan eksekutif [12].

Perbedaan Antara Gereja Dan Organisasi

Bagaimanakah makna pemimpin dan kepemimpinan rohani atau Kristen? Sebelum kita menelaah tentang definisi dan arti kepemimpinan Kristen, maka harus dikenali perbedaan konteks dari pemimpin dan kepemimpinannya, yakni organisasi atau gereja di mana kepemimpinan itu dilaksanakan. Ada dua perbedaan prinsip antara gereja dan organisasi [13] Pertama, dari segi naturnya. Hakikat gereja adalah organisme bukan organisasi. Ada tiga pihak yang hadir dalam gereja: Kristus, warga jemaat, dan pemimpin. Karena hakikat gereja sebagai organisme maka setiap anggota harus memiliki relasi pribadi dengan Kristus sebagai kepala gereja, dan sewajarnya setiap anggota memiliki persekutuan satu dengan lainnya. Kedua, sasaran utamanya. Gereja mengutamakan manusia lebih daripada benda, kerja, atau hasil. Oleh sebab itu, tujuan utama gereja adalah kedewasaan dari tubuh dalam relasi dengan Tuhan dan antar sesama di dalamnya. Sedangkan tujuan utama organisasi adalah untuk melaksanakan tugas dan mencapai upaya produktif [14], sehingga bisa saja mengabaikan kepentingan individu dalam organisasi, karena yang terpenting adalah bagaimana agar bisa mencapai target. Implikasi dari prinsip Alkitab tersebut adalah, gereja (komunitas umat Allah) sebagai organisme, secara terbatas [15] dapat memanfaatkan sistem organisasi dan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai umat Allah. Namun, gereja harus tetap mempertahankan sifat "keorganisasian" yang mengutamakan manusia, relasi antar pribadi, dan kebergantungan kepada Kristus sebagai Kepalanya.

Catatan Kaki:

[1] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: CV Rajawali, 1988), hlm. 33
[2] Ibid., hlm. 34
[3] Ibid., hlm. 35.
[4] Ibid., hlm. 29.
[5] Ibid., hlm. 31.
[6] Ibid., hlm. 35-37.
[7] Henry & Richard Blackaby, Kepemimpinan Rohani (Batam Centre: Gospel Press, 2005), hlm.33.
[8] Ibid., hlm. 38-39.
[9] Martin M. Chemers, An Integrative Theory of Leadership (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 1997), hlm. 2.
[10] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 39.
[11] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 40.
[12] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 30-31.
[13] Lihat Lawrence O. Richards and Clyde Hoeldtke, A Theology of Church Leadership (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1980), hlm. 31-42; 150-204.
[14] Martin, An Integrative Theory of Leadership, hlm. 2.
[15] Engstrom dan Dayton memandang bahwa organisasi dan manajemen bersifat netral, demikian pula orang yang memanfaatkannya, baik Kristen maupun bukan Kristen. Sedangkan Richards dan Hoeldtke menilai bahwa organisasi dan manajemen bersifat "amoral," atau netral, sedangkan manusia yang memanfaatkannya tidak netral dan berperan secara krusial, Kristen dan bukan Kristen. Lihat Richards and Hoeldtke, A Theology of Church Leadership, hlm. 191-204.



PEMIMPIN MASA DEPAN (2 RAJA-RAJA 6:1-23)
Menjelang milenium ada banyak seminar yang diselenggarakan oleh gereja maupun lembaga manajemen yang bertemakan "Kepemimpinan Abad 21". Kebanyakan topik pembahasan mengarah pada bagaimana menjadi pemimpin yang efektif dalam rangka menghadapi tantangan dan ancaman di milenium baru. Elisa hidup hampir 3000 tahun yang lalu, namun model kepemimpinannya sebagai nabi masih sangat relevan untuk diteladani orang Kristen masa kini. Sebagai seorang pemimpin, Elisa mau menyediakan waktu untuk bersama orang yang dipimpinnya dalam rangka menyelesaikan masalahnya. Ia tidak hanya peduli, namun juga mau mengidentifikasi dirinya dengan para murid. Kehadirannya akan memompa semangat murid-muridnya untuk menyelesaikan masalahnya dan menyediakan akses langsung pada penyelesaian lain jika masalah yang lebih besar datang. Seperti halnya ketika mata kapak salah seorang muridnya jatuh ke dalam air, ia langsung berseru kepada Elisa dan mengutarakan langsung permasalahannya. Pada zaman itu, mata kapak adalah barang langka dan mahal, apalagi barang pinjaman, maka berarti timbul masalah yang cukup besar bagi muridnya. Kehadiran Elisa mampu berfungsi sebagai "prevensi" (pencegahan, Red) yang sangat efektif atas masalah yang lebih besar.

Model kepemimpinan Elisa yang lain tergambar jelas ketika negeri Aram menyerang Israel. Sebagai pemimpin ia mampu menguasai dan menggunakan data-data informasi yang ia dapatkan untuk menyelamatkan bangsa Israel. Dalam menghadapi risiko ia tidak gentar, karena ia memunyai keyakinan yang lebih besar dari yang lain, karena ia mampu melihat kuasa Allah yang bekerja walaupun tidak kasat mata (16-17). Elisa juga mampu mengimplementasikan strategi yang cerdik dan taktis untuk membebaskan Israel dari ancaman Aram tanpa kekerasan yang akan merugikan kedua belah pihak. Di atas semua itu, sebagai pemimpin ia merupakan pemimpin yang berdoa dan dilengkapi dengan kuasa yang dari Allah sendiri. Ini rahasia utamanya sebagai seorang pemimpin.

Model kepemimpinan yang diterapkan Elisa terbukti efektif untuk mengatasi kesulitan maupun tantangan yang ada. Walaupun paradigma masa sekarang berbeda dengan zaman Elisa, namun model ini masih sangat relevan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar